19/02/12

Individu dalam Komunikasi Antar Pribadi

Memahami komunikasi dan hubungan antar pribadi dari sudut padang individu adalah menempatkan pemahaman mengenai komunikasi di dalam proses psikologis. Setiap individu dalam tindakan komunikasi memiliki pemahaman dan makna pribadi terhadap hubungan dimana dia terlihat di dalamnya. Karena pemahaman tersebut bersifat sangat pribadi dan sangat bermakna bagi individu, maka pemahaman psikologis acapkali dianggap sebagai makna yang sesungguhnya dari suatu hubungan antar pribadi.

Aspek psikologis dari komunikasi antar pribadi menempatkan makna hubungan sosial ke dalam individu, yaitu dalam diri partisipan komunikasi. Hal ini akan tampak jika kita lihat suatu hubungan dari sudut pandang kita sendiri, maka kita akan menyertakan semacam rasa memiliki ketika kita berpikir bahwa orang lain dan hubungan kita dengan orang tersebut seolah-olah milik kita.

Suatu pemahaman psikologis terhadap komunikasi antar pribadi merupakan bagian penting dari pemahaman yang menyeluruh terhadap komunikasi antar pribadi. Beberapa persoalan dapat muncul dalam proses pemahaman dalam individu yang disebut juga sebagai proses intra pribadi ini.

Fisher (1987: 106) menyebut tiga diantaranya, yaitu:
Pertama, munculnya respons individu terbatas pada setelah kegiatan komunikasi.
Kedua, Ingatan atau persepsi individu dapat berubah setelah suatu tindakan komunikasi.
Ketiga, individu sering mencampuradukkan hubungan antar pribadi dengan respons emosional mereka.
Ini semua akan menjadi masalah jika orang menganggap bahwa fokus psikologis komunikator merupakan pemahaman terpenting atau paling nyata dari komunikasi antar pribadi. Jadi dengan aspek psikologis saja belumlah cukup untuk memahami komunikasi antar pribadi secara menyeluruh.

Fungsi psikologis dari komunikasi adalah untuk menginterpretasikan tanda-tanda melalui tindakan atau perilaku yang dapat diamati. Kita akan melakukan seleksit terhadap tanda-tanda dari perilaku dan mengungkapkanya mana yang “palsu” dan mana yang “asli”. Cara inilah yang biasanya dilakukan dalam upaya untuk mengungkap dimensi internal dari diri yang sesungguhnya.


Tataran Psikologis dalam Komunikasi
Dalam konteks psikologis, komunikasi antar pribadi merupakan kegiatan yang melibatkan dua orang atau lebih yang memiliki tingkat kesamaan diri atau proses psikologis tertentu. Katakanlah Ani berkomunikasi dengan Budi, maka proses psikologis Ani harus memiliki kesamaan tertentu dengan proses psikologis Budi. Gambar berikut memberikan ilustrasi adanya overlap antara proses psikologi Ani dan Budi. Ketika Ani dan Budi berkomunikasi, mereka secara individual dan serempak memperluas diri pribadi masing-masing ke dalam tindakan komunikasi melalui pemikiran, perasaan, keyakinan atau dengan kata lain melalui proses psikologis mereka. Proses ini akan berlangsung terus sepanjang keduanya masih terlibat dalam tindakan komunikasi.


Saling berbagi pengalaman tidaklah berarti memiliki kesamaan pemahaman atau kesamaan diri, namun terdapat dua pemahaman individual yang berbeda, yang mempunyai kesamaan karakteristik tertentu. Kesamaan karakteristik ini merupakan suatu persinggungan dari dua atau lebih pemahaman yang berbeda. Persinggungan tersebut terwujud pada bidang yang overlap dari dua pemahaman, tetapi hal itu bukan merupakan, dan tidak akan pernah, menjadi suatu pemahaman tunggal. Jadi, komunikasi psikologis merupakan suatu persinggungan dari proses-proses psikologis yang berbeda dan tidak dipandang sebagai suatu proses psikologis tunggal.

Sebenarnya proses psikologis dalam komunikasi mencakup beberapa proses internal yang berbeda dan berlangsung secara simultan. Proses-proses ini berlangsung dalam beberapa tataran, dengan pengertian masing-masing mencakup bagian yang berbeda dari proses psikologis yang ”dibagi” oleh para partisipan dalam komunikasi antar pribadi.

Fisher (1987:110) mengemukakan bahwa ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, proses intra pribadi kita memiliki paling sedikit tiga tataran yang berbeda. Tiap tataran tersebut akan berkaitan dengan sejumlah ” diri” yang hadir dalam situasi antar pribadi, yaitu pandangan kita mengenai diri kita sendiri, pandangan kita mengenai diri orang lain, dan pandangan kita mengenai orang lain tentang kita. Seringkali hal ini disebut pula dengan persepsi, metapersepsi, dan metametapersepsi. Selanjutnya, ketiga tataran psikologis ini berfungsi secara stimultan ketika kita sedang berkomunikasi dengan orang lain, dan tiap tataran dapat dipengaruhi atau mempengaruhi tataran lainnya. Misalnya, Budi memandang Ani tidak menyukai atau tidak mempercayainya, maka Budi akan mulai menurunkan citra terhadap dirinya sendiri (merasa bahwa dirinya mungkin tidak jujur sehingga menganggap tidak disukai oleh orang yang jujur).

Perlu kita ingat kembali bahwa dalam komunikasi antarpribadi, sedikitnya ada dua orang yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, pada saat ketiga tataran psikologis kita berkomunikasi, hal yang sama berlaku pula pada diri partner komunikasi kita. Dalam kasus semacam ini kita seolah-olah berusaha untuk merefleksikan proses psikologis kita dengan proses psikologis yang kita anggap sedang terjadi dalam diri orang lain. Dan tentunya hal yang sama secara simultan terjadi pula pada diri partner komunikasi kita. Proses-proses psikologis yang terjadi pada dua individu ini tentunya tidak akan sama persis, tetapi masing-masing pihak berusaha untuk menghasilkan adanya tingkat persinggungan tertentu atau bidang yang overlap pada tiap-tiap tataran.

Meskipun terdapat persinggungan pandangan antara dua individu, akan tetapi tidak akan pernah terjadi sinkronitas yang sempurna antara keduanya. Dengan perkataan lain, mereka akan tetap berkomunikasi berlandaskan pada persinggungan proses psikologi mereka. Jadi arti penting dari komunikasi bukanlah pada kesamaan yang sempurna antara dua proses psikologis mereka, tetapi bahwa mereka berkomunikasi satu dengan lainnya seolah-olah ada kesamaan di antara mereka. Karena orang-orang yang terlibat dalam komunikasi seolah-olah saling berbagi bagian dari diri mereka, maka proses-proses psikologis mereka dapat mempengaruhi komunikasi antarpribadi dan hubungan sosial yang terjadi.
Pentingnya proses psikologis ini hendaknya dipahami dengan hati-hati, artinya proses intra pribadi individu dari partisipan komunikasi bukanlah hal yang sama dengan hubungan antarpribadi. Apa yang terjadi di dalam diri individu bukan komunikasi antar pribadi, melainkan proses psikologis. Meskipun demikian proses psikologis dari tiap individu pasti mempengaruhi komunikasi antar pribadi yang pada gilirannya juga akan mempengaruhi antarpribadi.

Proses psikologis dapat berpengaruh pada komunikasi dan hubungan antarpribadi karena individu menggunakannya sebagai pedoman untuk bertindak atau berperilaku. Ketika hal ini berlangsung, maka individu akan bertindak atas dasar proses psikologis yang diketahui atau diyakininya sebagai diri yang sesungguhnya. Benar tidaknya penyimpulan yang dilakukan tidak akan dapat diketahui individu tersebut, karena dia memang tidak memiliki pilihan lain selain menggunkan penafsirannya terhadap citra diri untuk mempengaruhi perilaku, terlepas dari apakah dia berhasil menyimpulkan diri yang sesungguhnya atau tidak. Persoalan sebetulnya memang bukan pada hadirnya diri yang sesungguhnya (real self) dalam tindakan komunikasi, karena semuanya akan kembali kepada pandangan masing-masing individu terhadap diri tersebut. Bukan pula pada akurat atau tidaknya pandangan masing-masing individu, karena mereka berperilaku seolah-olah pandangannya akurat.

Akhirnya, karena proses psikologis secara potensial mampu mempengaruhi komunikasi, kita tidak dapat mengesampingkannya jika ingin benar-benar memahami hubungan antarmanusia. Sebaliknya, kita juga jangan menganggap bahwa hanya proses psikologislah yang menentukan komunikasi. Kita hendaknya menempatkan proses psikologis sebagai faktor yang dapat mempengaruhi komunikasi dan hubungan sosial, karena secara tekhnis proses psikologis bukan merupakan bagian dari hubungan itu sendiri.

Secara umum komunikasi antar pribadi (KAP) dapat diartikan sebagai suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Komunikasi terjadi secara tatap muka (face to face) antara dua individu. Dalam pengertian tersebut mengandung 3 aspek:
i. Pengertian proses, yaitu mengacu pada perubahan dan tindakan yang berlangsung terus menerus.
ii. KAP merupakan suatu pertukaran, yaitu tindakan menyampaikan dan menerima pesan secara timbal balik.
iii. Mengandung makna, yaitu sesuatu yang dipertukarkan dalam proses tersebut, adalah kesamaan pemahaman diantara orang-orang yang berkomunikasi terhadap pesan-pesan yang digunakan dalam proses komunikasi.

Dari ketiga aspek tersebut maka KAP menurut Judy C. Pearson memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. KAP dimulai dengan diri pribadi (self). Berbagai persepsi komunikasi yang menyangkut pemaknaan berpusat pada diri kita, artinya dipengaruhi oleh pengalaman dan pengamatan kita.
2. KAP bersifat transaksional. Anggapan ini mengacu pada pihak-pihak yang berkomunikasi secara serempak dan bersifat sejajar, menyampaikan dan menerima pesan.
3. KAP mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi. Artinya isi pesan dipengaruhi oleh hubungan antar pihak yang berkomunikasi.
4. komunikasi antarpribadi mensyaratkan kedekatan fisik antar pihak yang berkomunikasi.
5. KAP melibatkan pihak-pihak yang saling bergantung satu sama lainnya dalam proses komunikasi.
6. KAP tidak dapat diubah maupun diulang. Jika kita salah mengucapkan sesuatu pada pasangan maka tidak dapat diubah. Bisa memaafkan tapi tidak bisa melupakan atau menghapus yang sudah dikatakan.

KAP berlangsung antar dua individu, karenanya pemahaman komunikasi dan hubungan antar pribadi menempatkan pemahaman mengenai komunikasi dalam proses psikologis. Setiap individu dalam tindakan komunikasi memiliki pemahaman dan makna pribadi terhadap setiap hubungan dimana dia terlibat di dalamnya.

Hal terpenting dari aspek psikologis dalam komunikasi adalah asumsi bahwa diri pribadi individu terletak dalam diri individu dan tidak mungkin diamati secara langsung. Artinya dalam KAP pengamatan terhadap seseorang dilakukan melalui perilakunya dengan mendasarkan pada persespsi si pengamat. Dengan demikian aspek psikologis mencakup pengamatan pada dua dimensi, yaitu internal dan eksternal. Namun kita mengetahui bahwa dimensi eksternal tidaklah selalu sama dengan dimensi internalnya.

Fungsi psikologis dari komunikasi adalah untuk menginterpretasikan tanda-tanda melalui tindakan atau perilaku yang dapat diamati. Proses interpretasi ini setiap individu berbeda. Karena setiap individu memiliki kepribadian yang berbeda, yang terbentuk karena pengalaman yang berbeda pula.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Individu dalam KAP
Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa komunikasi antarpribadi dimulai dari diri individu. Tampilan komunikasi yang muncul dalam setiap kita berkomunikasi mencerminkan kepribadian dari setiap individu yang berkomunikasi. Pemahaman terhadap proses pembentukan keperibadian setiap pihak yang terlibat dalam komunikasi menjadi penting dan mempengaruhi keberhasilan komunikasi. Dalam modul ini realita komunikasi antarpribadi dianalogikan seperti fenomena gunung es (the communication iceberg).
Analogi ini menjelaskan bahwa ada berbagai hal yang mempengaruhi atau yang memberi kontribusi pada bagaimana bentuk setiap tampilan komunikasi.
Gunung es yang tampak, dianalogikan sebagai bentuk komunikasi yang teramati atau terlihat (visible/observable aspect) yaitu:

1. interactant, yaitu orang yang terlibat dalam interaksi komunikasi seperti pembicara, penulis, pendengar, pembaca dengan berbagai situasi yang berbeda.
2. symbol. Terdiri dari symbols (huruf, angka, kata-kata, tindakan) dan symbolic language (bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dll)
3. media, saluran yang digunakan dalam setiap situasi komunikasi.

Memahami Orang Lain dalam Komunkasi
Dalam setiap komunikasi yang melibatkan dua orang, akan terdapat dua diri pribadi yang harus dikenali, yaitu diri kita sendiri dan diri orang lain yang menjadi partner komunikasi kita. Upaya mengenali orang lain bukanlah persoalan sederhana. Upaya ini menyangkut proses psikologis yaitu persepsi, dan seperti telah kita ketahui, persepsi memiliki banyak kelemahan sebagai dasar untuk memperoleh pengetahuan. Antara lain persepsi tidak akurat, selektif, subjektif dan sebagainya. Dalam mempersepsi orang lain, kita harus membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap, yaitu informasi yang hanya diperoleh melalui kelima indera kita. Maka, ketika kita berkomunikasi, kita akan mendasarkan persepsi terhadap orang lain atas perilaku komunikasinya yang dapat diamati.
Meskipun sesungguhnya banyak informasi yang kita perlukan untuk melakukan persepsi terhadap orang lain, namun ada tiga jenis informasi terpenting yang perlu kita ketahui, yaitu tujuan orang tersebut. Mempersepsi tujuan orang memiliki beberapa arti bagi kita.
Pertama, adalah sebagai mekanisme proteksi, yaitu kita ingin mengetahui apa yang diharapkannya dari kita melalui komunikasi yang dia lakukan.
Kedua, melalui pemahaman terhadap tujuan orang, kita dapat mengevaluasi kesungguhan atau akurasi dari penampilannya.
Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa kita menganggap sebagian besar perilaku memiliki tujuan tertentu, dan kita menggunakan persepsi untuk mengenali secara cermat apa tujuan orang lain.

Adalah tidak mungkin bagi kita untuk secara nyata mengamati kondisi internal orang lain. Namun melalui pengamatan terhadap perilakunya, kita dapat menyimpulkan bagaimana sikap, keyakinan dan nilai orang tersebut. Ada anggapan bahwa elemen non verbal dari perilaku merupakan refleksi yang paling akurat dari perasaan atau kondisi i9nternal seseorang. Sementara itu, adanya kesamaan antara kita dengan orang yang kita ajak berkomunikasi akan mendorong rasa saling menyukai. Keadaan semacam ini akan membentu kita untuk merasa lebih nyaman dalam melanjutkan komunikasi.

Setelah kita memperoleh informasi tentang orang lain yang dibutuhkan, apa yang harus dilakukan dengan informasi tersebut. Dalam komunikasi antarpribadi, setiap partisipan perlu mengenali partisipan lainnyadalam rangka mencapai dua tujuan, yaitu mengurangi ketidakpastian (uncertainty reduction) dan perbandingan sosial (social comparison).
Ketika kita pertama kali bertemu dengan seseorang biasanya akan muncul banyak pertanyaan di dalam benak kita. Siapa orang ini ? Apa yang diinginkannya dari kita? Bagaimana saya harus berperilaku di hadapan orang ini? Dengan kata lain, kita memasuki suatu situasi komunikasi tanpa kejelasan. Selanjutnya kita akan berkomunikasi untuk menemukan jawaban bagi pertanyaanpertanyaan kita tadi. Dari situasi ketidakjelasan kita berusaha untuk mengeliminasi sebagian dari ketidakjelasan tadi dalam rangka memperoleh gambaran mengenai perilaku apa yang sesuai untuk situasi tersebut.
Jadi, dalam tahap awal komunikasi antarpribadi, kita akan berusaha mengurangi jumlah ketidakpastian yang kita rasakan mengenai apa yang harus kita lakukan. Pada sisi lain, upaya ini juga sekaligus merupakan proses pemaknaan, yaitu proses mengeliminasi makna-makna yang tidak sesuai hingga tersisa beberapa makna yang kita anggap sesuai. Dengan menggunakan proses eliminasi, kita akan mendapatkan pemahaman dan makna melalui pengurangan ketidakpastian. Sehingga berlangsunglah proses persepsi yang kita lakukan terhadap orang lain.
Perbandingan sosial adalah proses membandingkan diri kita dengan orang lain. Mengutip Leon Festinger, Fisher (1987:160) yang mengemukakan bahwa orang biasanya melakukan evaluasi diri, yaitu suatu cra untuk mengetahui diri kita sendiri (konsep diri). Selain itu kita juga ingin mengetahui bagaimana menilai diri kita (selfesteem). Sebagai manusia, kita selalu ingin merasa ”baik”, oleh sebab itu kita melakukanproses evaluasi diri (seperti pendapat, ide, hasil-hasil yang telah kita capai, konsep diri) dengan membandingkan diri kita pada orang lain. Komunikasi antarpribadi merupakan suatu peluang untuk melakukan perbandingan sosial.
Ketika melakukan perbandingan sosial, kita cenderung untuk melakukan dengan orang orang yang setara. Artinya, jarang kita membandingkan diri dengan orang lain yang jauh diatas ukuran kita. Misalnya, kita membandingkan keyakinan politik kita dengan orang lain yang statusnya hampir sama, status sosial ekonomi kita dengan orang lainyang statusnya hampir sama, dan sebagainya. Jadi, perbandingan sosial bukanlah upaya untuk melakukan evaluasi diri secara objektif. Meskipun demikian ini adalah cara yang sehat untuk menjaga kestabilan konsep diri dan self esteem, karena jika kita membandingkan diri dengan ukuran yang tidak setara maka resikonya adalah merosotnya self esteem dan meningkatnya gangguan psikologis.
Perlu diingat bahwa proses mengurangi ketidakpastian dan perbandingan sosial terbatas pada tahap ”pengenalan /mulai mengenal”, yaitu tahap awal dalam komunikasi antarpribadi. Interaksi selanjutnya akan semakin mengurangi ketidakpastian dan memperjelas bagaimana harus berinteraksi, dan biasanya juga membawa kepada penemuan kesamaan. Setelah berhubungan selama beberapa waktu, proses pengurangan ketidakpastian dan perbandingan sosial menjadi tidak terlalu penting lagi. Misalnya, jika kita telah memupuk persahabatan dengan seseorang, biasanya kita tidak terlalu menganggap penting perbedaan-perbedaan yang terjadi antara kita dengan orang tadi.


Persepsi Terhadap Orang lain
Proses mempersepsi orang lain mencakup persepsi terhadap karakteristik fisik dan perilaku komunikasi orang tersebut. Steve Ducks (1977) mengemukakan bahwa perilaku orang akan membantu dalam tiga hal sebagai berikut :
Pertama, perilaku tersebut mungkin akan terasa menyenangkan bagi kita, karena kita akan selalu merasa senang jika mendapat senyuman atau pujian misalnya.
Kedua, perilaku tersebut memberikan informasi yang dapat kita gunakan untuk membentuk semacam kesan mengenai kondisi internal seseorang (kepribadian, sikap, keyakinan, nilai).
Ketiga, perilaku seseorang dapat memberikan perkiraan mengenai kelanjutan hubungan di kemudian hari.

Untuk mengartikan perilaku orang lain dalam menyimpulkan kepribadian dan kondisi internalnya, adalah permainan tebak-tebakan, apakah kesimpulan kita benar atau salah. Pada kenyataannya, persepsi kita terhadap orang lain memang tidak bisa lebih dari tebakan/perkiraan. Hanya dengan informasi yang lebih banyak yang kita peroleh seiring dengan berlangsungnya komunikasi atau berlanjutnya hubungan, maka kita dapat menebak dengan lebih baik/akurat.

Bila seseorang melakukan persepsi, sebenarnya yang mengendalikan penyimpulan terhadap apa yang dilakukannya adalah orang itu sendiri. Oleh karenanya, untuk memahami proses mempersepsi ini adalah menyadari apa yang terjadi dalam diri kita ketika perhatian kita tertuju pada orang lain. Bahasan berikut akan menguraikan tiga proses kognitif yang terjadi dalam mempersepsikan orang lain, ketiganya adalah implicit personality theory, proses atribusi dan response sets.

Menggunakan impilicit personality berarti berusaha memahami individu tertentu dengan menempatkan ciri-ciri individu tersebut ke dalam suatu kerangka pemahaman. Ini merupakan kebalikan dari proses stereotyping. Ketika melakukan stereotype terhadap seseorang, kita mulai dengan suatu klasifikasi sosial secara umum dan menerapkannya pada orang tersebut tanpa tahu lebih jauh tentang dirinya sebagai individu yang spesifik. Menggunakan implicit personality theory, dimulai dengan individu dan mencoba mengidentifikasikannya ke dalam klasifikasi sosial berdasarkan apa yang kita ketahui tentang individu tersebut sebagai sosok yang spesifik/khas.

Proses atribusi adalah proses intrapribadi yang menempatkan penyebab atau pengendali atas suatu peristiwa kepada seseorang atau sesuatu. Proses persepsi ini menempatkan ”locus of control” kepada seseorang (dispositional) atau kepada konteks (situasional). Sebagai bentuk proteksi, kita biasanya memandang diri kita sendiri dalam pengertian situasional. Yaitu kita cenderung menimpakan perilaku kita yang tidak disukai kepada situasi, bukan kepada diri kita sendiri. Seperti misalnya ”keterlambatan ini bukan kesalahan saya, karena mobil saya tidak bisa bergerak dalam kemacetan lalu lintas”. Sebaliknya kita cenderung mempersepsikan orang lain dalam pengertian disposisional. Ketika memperhatikan seseorang, kita cenderung menempatkannya pada proses intra pribadi, yaitu sesuatu yang terjadi di dalam orang tersebut. Misalnya, kita kan berkata bahwa ”Dia sedang bingung. Sudah dua kali kami berpapasan dan dia tidak mengenali atau menegurku”.
Proses atribusi memiliki arti penting bagi komunikasi dalam beberapa hal. Pertama, proses ini membantu kita untuk menyusun penjelasan mengenai suatu kejadian/peristiwa dengan menggunakan pola-pola seperti yang telah dicontohkan di atas. Kedua, proses ini secara relatif akurat menggambarkan hubungan antara kondisi psikologis dengan perilaku. Meskipun kesesuaian antara kondisi psikologis dan perilaku masih diperdebatkan (apakah perilaku benar-benar merefleksikan kondisi psikologisnya), namun keduanya berfungsi secara bersamaan dalam suatu siklus yang saling mempengaruhi. Dalam hal ini kita biasanya merasa bahwa kondisi psikologis tidak mengendalikan perilaku kita (perilaku kita tidak secara otomatis merefleksikan perasaan kita). Namun kepada orang lain kita cenderung menganggap bahwa perilakunya mencerminkan kondisi psikologisnya, dan ini menjadi acuan bagi kita untuk berperilaku terhadap orang lain tersebut.
Ketiga, proses atribusi akan mempengaruhi hasil dari hubungan antarpribadi (misalnya ingin meneruskan/meningkatkan hubungan), dan meningkatnya hubungan juga akan mempengaruhi proses atribusi. Pada tahap awal hubungan, masing-masing pihak belum merasa dekat (baru kenal, atau baru sebagai teman biasa), kita cenderung mempersepsikannya dalam pengertian situasional (jika menyangkut kita) atau disposisional (jika menyangkut orang lain). Namun dalam hubungan yang sudah sangat dekat/akrab/intim, kita cenderung menempatkan hal lain sebagai penyebab suksesnya hubungan kita, yaitu pada hubungan itu sendiri (hubungan yang nyaris sempurna, ada saling pengertian diantara kami, hubungan baik ini telah memberi motivasi..dsb). Dengan demikian, tataran intrapribadi (atribusi) dan antarpribadi (hubungan) dari komunikasi saling mempengaruhi satu dengan lainnya.
Response sets merupakan predisposisi tertentu yang dilakukan untuk menanggapi orang lain. Proses ini mengandung lompatan penyimpulan dari perilaku orang lain kepada perilaku kita ketika menanggapinya. Menyadari bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan cukup informasi untuk mengenali orang lain secara utuh, maka kita menggunakan response sets sebagai jalan pintas untuk melakukan penyimpulan. Oleh karenanya, dalam proses ini kesalahan dalam mempersepsikan orang sangat mungkin terjadi. Responsse sets yang sangat umum digunakan adalah halo effect dan leniency effect.
Kita merasakan halo effect ketika kita terlalu menggeneralisasi perilaku orang dalam suatu situasi tertentu kepada situasi lain yang sama sekali belum kita ketahui. Misalnya, kita mengetahui perilaku teman kerja kita yang kurang bertanggung jawab, sepoerti sering terlambat masuk, lambat dalam mengerjakan tugas dan sebagainya. Dari pengamatan ini, kita lalu menyimpulkan bahwa dia akan berperilaku sama dalam berbagai bidang kehidupannya yang lain. Kita juga menganggap dia kurang bertanggungjawab pada keluarganya, sering keluar rumah curang pada istrinya dsb. Demikian pula dengan orang yang kita kenal ramah, lalu kita menganggap dia juga akan ramah kepada orang-orang lainnya. Persoalan yang muncul dari halo effect ini adalah bahwa kita mengabaikan situasi yang dapat mempengaruhi tindakan orang. Kita melupakan kenyataan bahwa orang akan berperilaku dan menampilkan peran yang berbeda dalam situasi yang berbeda dan kepada orang yang berbeda.
Leniency effect adalah response sets lain di mana kita membiarkan hubungan kita dengan seseorang mempengaruhi persepsi kita terhadap orang tersebut. Misalnya, kita cenderung untuk mengidealkan teman kita dan sangat toleran dalam menilainya. Kita terlalu berlebihan dalam menilai kebaikan-kebaikannya dan sangat mentolerir perilakunya yang secara umum dianggap baik. Sehingga dalam persepsi kita dia hanya memiliki sedikit kekurangan dibanding begitu banyak kelebihannya. Oleh karenanya, mungkin kita tidak habis mengerti kenapa banyak orang tidak menyukai teman kita yang nyaris sempurna ini. Hal yang sebaliknya terjadi juga kepada orang yang tidak kita sukai. Karena kita cenderung menilai kelewat rendah perilaku positifnya, dan kelewat tinggi pada perilaku negatifnya.
Persepsi terhadap orang lain, seperti halnya persepsi terhadap diri sendiri, terbuka bagi berbagai kesalahan. Oleh karenanya, persepsi terhadap orang lain (akurat maupun tidak akurat) dapat menguntungkan atau merugikan dalam proses hubungan atau komunikasi antarpribadi. Hal yang perlu dicamkan adalah bahwa kita harus selalu terbuka bagi informasi tambahan dan menggunakannya untuk memperbaiki persepsi kita terhadap orang lain.

Perilaku Terhadap Orang Lain
Untuk dapat berkomunikasi secara efektif, kita berharap untuk dapat mempengaruhi persepsi orang lain terhadap diri kita. Kita menginginkan orang lain memiliki penilaian yang baik mengenai diri kita, paling tidak memiliki kesan bahwa kita konsisten dengan tujuan kita berkomunikasi kepadanya. Kita dapat berharap agar orang lain memandang kita sebagai teman, pimpinan, pasangan, dan berbagai peran sosial lainnya. Meskipun kita tidak dapat memaksa orang dalam mempersepsikan diri kita namun kita dapat melakukan sesuatu untuk mengarahkan persepsi mereka. Yaitu kita dapat berperilaku dalam cara-cara tertentu yang dapat mendorong kearah kesan tertentu mengenai diri kita. Jadi kewajiban kita ketika berkomunikasi adalah memberikan informasi kepada orang lain, melalui perilaku kita, agar dapat digunakan untuk mempersepsi diri kita sesuai dengan yang kita harapkan.

Tindakan ini sesungguhnya sangat ilmiah/wajar, artinya bukan selalu merupakan upaya untuk berpura-pura atau menipu orang lain. Karena meskipun beberapa perilaku kita mungkin pura-pura atau palsu, kita mengetahui pila bahwa kita memiliki berbagai peran sosial yang berbeda bagi orang dan situasi yang berbeda, yang akan mempengaruhi perilaku kita ketika berkomunikasi. Beberapa konsep yang dapat menjelaskan hal ini antara lain impression management, rhethorical sensitivity, attributional responsses, dan konfirmasi antarpribadi.

Erving Goffman (1963) seorang sosiolog mengemukakan bagaimana setiap orang dalam kehidupan sehari-harinya terlibat dalam ”memerankan” dirinya kepada orang lain. Tindakan ini bukanlah upaya kepura-puraan/manipulatif, melainkan bagian yang wajar dalam interaksi sosial yang disebut impression management. Lebih lanjut dikemukakan bahwa setiap kali kita berperilaku terhadap orang lain, tidak ada pilihan lain kecuali mengarahkan kesan orang tersebut terhadap kita. Kita tidak memiliki pilihan dalam arti, kita tidak dapat bisa tidak berperilaku. Persoalannya adalah apakah kita sadar akan upaya kita mengarahkan kesan orang lain, bukan apakah kita melakukannya atau tidak.
Impression management, memandang komunikasi antarpribadi sebagai sebuah drama taua sndiwara. Sebagai partisipan dalam komunikasi, kita bukan hanya sebagai aktor, tetapi sekaligus penulis skenario yang menulis naskah ”drama” kehidupan nyata ketika kita terlibat dalam komunikasi antarpribadi. Ketika kita mengarahkan kesan orang lain, kita menghadirkan diri kita dalam dua bentuk perilaku, yaitu ”depan” dan ”belakang”.” Depan” mengacu pada bagian dari diri kita yang dapat diamati/tampak oleh orang lain, bagian”depan” ini menunjukkan bagian dari diri kita yang berada ”diatas panggung”. ”belakang” mengacu pada perilaku ”dibalik panggung” kita yang kita lakukan ketika tidak ada orang lain, atau kita tidak menyadari adanya orang lain yang hadir disekitar kita. Perlu dipahami bahwa persoalan ”diatas panggung/depan” dan dibalik panggung/belakang” ini bukanlah mengacu pada perilaku pura-pura atau perilaku sebenarnya. Keduanya dalah wajar, hanya saja yang satu merupakan situasi sosial, sedangkan lainnya merupakan situasi pribadi. Misalnya kita senang duduk sambil mengangkat kaki, ini biasanya hanya bisa kita lakukan bila sedang sendiri, dengan hadirnya orang lain tentunya kita akan duduk secara lebih baik untuk menanamkan kesan yang baik pula terhadap orang tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Definisi Public Relations

Public relations (PR) yang diterjemahkan bebas menjadi hubungan masyarakat (Humas), terdiri dari semua bentuk komunikasi yang terselenggara...